ONTrip-Gili Lawa Terbakar

Tragedi Terbakarnya Gili Lawa: Salah Siapa?

by

Kabar duka kembali dialami oleh pariwisata Indonesia. Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 2018 jam 19.00 WIT, terjadi kebakaran besar di salah satu pulau andalan di Labuan Bajo yaitu Gili Lawa. Padang Savana yang menjadi daya tarik dari Gili Lawa terbakar. Tidak tanggung-tanggung luas padang savana yang terbakar mencapai 10 hektar! Sampai saat ini, kasus ini masih dalam proses penyelidikan dan beberapa pihak masih dimintai keterangan. Menurut saksi dan beberapa pihak yang ada di lokasi, kebakaran disebabkan oleh kembang api yang dinyalakan oleh wisatawan dan tour leader yang memandu mereka.

Memang tidak ada laporan korban jiwa hingga saat ini karena Gili Lawa memang tidak berpenghuni. Namun, keindahan padang savana Gili Lawa saat ini berubah menjadi padang hitam paska terbakar. Perlu waktu paling cepat 1 tahun untuk bisa memulihkannya kembali. Bahkan saat ini, Gili Lawa ditutup dan tidak bisa dikunjungi. Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas ini? Pemerintah? Tour agent? Atau wisatawan?

Labuan Bajo yang saat ini menjadi salah satu destinasi andalan di Indonesia. Sudah selayaknya menjadi asset berharga yang harus dijaga untuk pariwisata Indonesia. Keindahan alam dan habitat komodo adalah hal yang harus dijaga bersama. Pemerintah sudah membuat aturan, namun sayangnya tidak ada pengawasan. Ketika terjadi masalah atau tragedi seperti saat ini, barulah pengawasan diperketat. Mengapa tidak melakukan langkah preventif di awal? Sehingga hal seperti ini harusnya bisa dihindari. Seperti melakukan pemeriksaan di dermaga, pengecekan sebelum kapal wisata berlayar, dan juga menjalankan standar operasional lainnya. Haruskah kita korbankan terlebih dahulu salah satu asset pariwisata Indonesia, baru standar operasional dijalankan? Hal ini tentunya sangat disayangkan. Selalu saja seperti ini. Padahal sudah banyak tragedi yang terjadi akibat kelalaian dan kurangnya pengawasan pemerintah. Namun, hal ini belum juga jadi bahan instropeksi hingga saat ini.

Tour agent merupakan pihak yang mendapat keuntungan dari keindahan destinasi wisata. Sudah seharusnya ambil bagian untuk turut menjaga destinasi tersebut. Mereka harus menjadi perpanjangan tangan dari pemerintah untuk juga menjaga destinasi tersebut. Jangan hanya profit yang dipikirkan tanpa memperdulikan dampak yang timbul di tempat mereka mencari rezeki. Jangankan berinvestasi untuk menjaga dan melindungi destinasi tersebut, bahkan peduli pun tidak. Banyak tour leader yang menemani para wisatawan berdalih memberikan service excellent  malah menuruti semua kemauan wisatawan tanpa memikirkan dampaknya terlebih dahulu. Bayangkan, hanya karena ingin memenuhi keinginan beberapa wisatawan untuk pesta kembang api, akhirnya Gili Lawa terbakar! Akhirnya saat ini harus ditutup dan tidak bisa dinikmati oleh wisatawan lainnya. Sangat memprihatinkan!

Sebagai wisatawan sudah selayaknya mematuhi dan peduli dengan alam sekitar. Jangan melakukan kegiatan-kegiatan yang membahayakan alam. Seringkali kita jumpai sampah yang berserakan dan dibuang sembarangan oleh para wisatawan. Bahkan, tak jarang para wisatawan membuang sampah langsung ke laut dari atas kapal. Sungguh ironis. Belum lagi wisatawan yang merokok dan melemparkan puntung rokok sembarangan setelahnya. Hal-hal tersebut sangat berpotensi untuk merusak alam. Cukuplah nikmati keindahannya dan abadikan dengan kameramu tanpa perlu merusaknya. Jangan egois! Masih banyak orang yang juga ingin menikmati keindahan tersebut, bahkan mungkin termasuk anak dan cucumu. Jadilah wisatwan yang bermartabat dan bijak. Ikutilah aturan yang telah dibuat, buang sampah pada tempatnya dan jangan merusak alam yang indah ini.

Cukup sudah Gili Lawa menjadi korban dari ketidakpedulian kita. Jangan sampai ada “Gili Lawa” lainnya karena tidak ada perubahan perilaku yang kita lakukan. Pesta kembang api sesaat akhirnya membuat tragedi yang sangat besar karena di lakukan di tempat dan waktu yang tidak tepat. Lihatlah keadaan sekitar sebelum melakukan sesuatu sehingga kita bisa lebih bijak dalam bertindak.

Jika semua pihak sudah memahami dan menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing maka ini menjadi tindakan preventif yang ampuh. Kita bisa meminimalisir tragedi yang akan terjadi. Tentunya ini akan menaikkan juga branding pariwisata Indonesia yang memiliki alam yang indah dan ramah untuk dikunjungi. Ini menjadi promosi tersendiri untuk pariwisata Indonesia bahkan di mata dunia.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.