Fakta! Inilah Sejarah Dari Jembatan Ampera

by

Jembatan Ampera adalah ikon wisata dari Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan Ampera ini membelah Sungai Musi serta jadi jantung untuk aktivitas orang-orang Palembang keseharian. Waktu malam, hiasan lampunya sungguh sangat cantik. Jembatan Ampera, yang sudah jadi sejenis simbol kota, terdapat di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu serta Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan Ampera ini mempermudah aktivitas keseharian orang-orang sekitaran.

Jika perut kamu mulai lapar, di sekitaran Sungai Musi yang terdapat dibawah Jembatan Ampera bisa jadi wisata kuliner kamu loh. Ada beragam menu khas Palembang, seperti pempek serta masih banyak lagi yang lainnya. Keindahan Jembatan Ampera waktu malam hari sangat mempesona. Beberapa puluh lampu yang cantik bakal menghiasi jembatan ini, panorama istimewa yang harus diabadikan dalam kameramu ONTripers.

Kehadiran jembatan ini begitu utama untuk menghubungkan daerah ulu serta ilir hingga transportasi jadi lancar dan otomatis juga membuat lancar kehidupan ekonomi masyarakat. Jembatan Ampera adalah hadiah Bung Karno untuk orang-orang Palembang yang dananya di ambil dari dana rampasan perang Jepang. Dulu jembatan ini pernah dinamakan Jembatan Bung Karno, namun beliau tak sepakat (agar tak ada kultus individu), jadi nama Ampera lebih pas sesuai sama manfaatnya sebagai Amanat Penderitaan Rakyat, yang pernah jadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960-an.

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana perampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti Soekarno sangat kuat, nama jembatan itupun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Share agar Indonesia lebih eksis!

You may also like

1 Comment
  1. michael kors outlet 9 months ago
    Reply

    I and also my guys were found to be going through the great points found on the blog and all of a sudden I had a horrible suspicion I never thanked the website owner for those strategies. Those young boys appeared to be for that reason excited to see all of them and already have extremely been making the most of these things. Thank you for really being so helpful as well as for utilizing this form of wonderful resources millions of individuals are really desperate to be aware of. My personal honest regret for not expressing appreciation to earlier.

Leave a Comment

Your email address will not be published.