ONTrip - Kaledo - Sulawesi Tengah

Nikmatnya Menyerumput Sumsum Di Balik Tulang Berselimut Daging Super Empuk…

by

Apakah anda punya rencana berkunjung ke wilayah Sulawesi Tengah? Kalau suatu saat menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah jangan lupa mencicipi makanan khas mereka.

Seperti di wilayah Sulawesi lainnya, Sulawesi Tengah pastinya terkenal dengan makanan lautnya enak dan segar-segar. Namun kali ini saya ingin memperkenalkan makanan yang bukan berasal dari laut namun dari darat, yang dikenal dengan nama Kaledoa tau orang sini bilang kepanjangan dari kaki lembu donggala. Lembu atau sapi donggala memang banyak dipelihara orang di Sulawesi Tengah ini. Lembu yang besar-besar tidak dipelihara dalam kandang tapi dibiarkan berkeliaran di lapangan-lapangan rumput, di pematang mencari makan sendiri.

Donggala memang salah satu wilayah yang ada di Sulawesi Tengah. Saat ini Donggala adalah kota yang sepi, kota yang ditinggalkan para penghuninya yang merantau ke tempat lain. Kini bangunan-bangunan tua bekas gudang-gudang, rumah dan kantor menjadi sedih merana. Padahal di masa lalu Donggala adalah kota pelabuhan penting yang sangat ramai aktifitas perniagaannya. Dahulu di tempat ini banyak gudang-gudang kopra, rempah dan aneka barang  yang kemudian diangkut kapal-kapal besar dari dan ke seluruh dunia.

Di zaman ke emasannya banyak orang dari seluruh Nusantara mondar-mandir lewat pelabuhan donggala menjual dan membeli barang, atau hanya transit saja sebelum pergi ke wilayah lain. Pada jaman Jepang, disaat perang dunia kedua, kota yang berada memanjang di garis pantai ini pernah dijadikan ibukota,  yang kemudian dihujani bom oleh sekutu. Donggala memang menyimpan cerita dan sejarah panjang yang tak habis untuk dikisahkan.

Saya telah beberapa kali menginjakkan kaki di wilayah Sulawesi Tengah untuk berbagai keperluan. Dengan penerbangan subuh dari Jakarta, saya mendarat di bandara Mutiara yang kini telah berdandan cantik bersih, bandara bergaya minimalis dengan kaca besar-besar yang menjadikan setiap ruang terang benderang bermandikan cahaya sinar Matahari, tanpa harus menggunakan banyak energi listrik.

Masih pukul Sembilan pagi mau ke manakah kita?? Ke hotel dulu atau cari kopi, nanti siang baru kita coba makan kaledo biar tubuh kembali fit kata pak Rim, (namanya singkat saja Rim.. he he he) kawan baik saya yang  berasal dari Tana Toraja yang telah lama bermukim dan bekerja di Palu. “ oke kita cari kopi dulu, kemudian cek in di Hotel dan siangnya kita makan kaledo”.. “ mantab ” kata pak Rim.

Singkat cerita, siang yang super panas itu kami menuju meluncur ke kota Donggala mencari kaki lembu Donggala. Jarak kota Palu ke kota Donggala sebentar saja, sekitar 45 menit sampai satu jam perjalanan. Melewati pinggir pantai dengan pemandangan indah,  laut yang biru gelap dikombinasikan dengan langit biru muda. Namun kali ini kita tak menuju donggala, namun mencari kaledo.Resto atau warung-warung yang menjual kaledo memangt erdapat di mana-mana, di Sulawesi Tengah ini. Namun untuk“rasa”yang bisa dipercaya dan direkomendasi biasanya mereka mencari kaledo di wilayah aslinya..Donggala.

Belum jauh kami ngobrol di mobil,  pak Rim menepikan kendaraannya di sebuah restoran yang ukurannya dari luar terlihat tak begitu besar. Pada plang resto ini tertulis. “KaledoSterio”.  Wah lucu juga dinamakan Sterio seperti istilah musik, nanti ada lagi restoran bernama Mono..hehehe. Tapi apa artinya sebuah nama, yang pentingkan rasa. Oke Bro mari kita masuk.. (ternyata lokasinya dekat saja, masih di seputaran kota Palu)

Rumah makan kaledo sterio berinteror sederhana tak banyak pernik dan pajangan yang ditampilkan di dinding-dindingnya. Menunya pun hanya satu yakni kaledo.

Kaledo atau kaki lembu donggala adalah sebuah sop tanpa santan. Barangkali sama seperti sop buntut, sop daging atau ayam, hanya pastinya punya rasa khas berbeda dengan sop-sop lain pada umumnya.

Biasa kalau ada sesuatu yang baru dalam menu masakan saya selalu cari tahu ke dapur.

Pagi-pagi sekali potongan-potongan daging, tulang, tulang iga lembu dicuci bersih kemudian direbus dengan kuali yang terbuat dari tanah. Merebusnya tidak pakai kompor gas, namun memakai kayu bakar yang dinyalakan sangat besar, sehingga suhu dapur terasa sangat panas dan pengab. Memasaknya juga tak tanggung-tanggung, lumayan lama, dan sangat mendidih. Karena dimasak sekitar dua sampai tiga jam dengan suhu yang sangat panas, kaldu yang lezat berwarna putih kekuningan keluar dari balik potongan-potongan tulang dan daging. Jangan lupa masukan bumbunya seperti garam, gula pasir, asam Jawa garam, serai dan cabe rawit merah yang telah digerus. ”Yaitu saja bumbunya,  kata ibu pemilik rumah makan yang telah tahunan membuka usahanya. Sop kaki lembu donggala memang hadir dengan kesedehanaan.

Menjelang siang, mulailah orang berdatangan. Resto yang tadinya sepi kini berubah menjadi sibuk. Semuanya ingin menikmati kaledo. Tidak hanya warga Palu dan sekitarnya yang datang ke tempat ini, namun warga dari kota lain juga mampir untuk makan, sebelum melanjutkan ke kota lain. Salah satu pengunjung adalah Ichsan berasal dari kabupaten Banggai. Dirinya selalu menyempatkan diri menikmati Kaledo ketika berada di seputaran Palu. Menurutnya sop lembu yang lezat ini akan meningkatkan kualitas dan semangat tubuhnya setelah melakukan perjalanan jauh.

Selain dengan nasi, masyarakat Sulawesi Tengah menikmati kaledo dengan singkong rebus (masyarakat sini menyebutnya ubi). Atau dengan boras atau lontong. Rasa gurih kaldu, daging yang lembut berpadu dengan rasa asam Jawa yang segar menjadikan napsu makan terus bertambah.

Namun biasanya seporsi kaledo sudah membuat pengunjung cukup kenyang. Biasanya acara makan ditutup dengan meminum segelas jeruk dingin yang segar, dan kue-kue basahs ebagai pencuci mulut. Namun kalau masih penasaran ada sedotan dimana kita dapat menyedot sumsum yang bersembunyi dari tulang sapi yang besar. Rasanya..tak dapat dikisahkan dalam kata-kata. Nah kalau suatu saat nanti berkunjung ke Sulawesi Tengah, jangan lupa sempatkan diri menikmati Kaledo. Dijamin badan yang tadinya lesu kurang bersemangat langsung segar bertenaga dan siap melakukan aktifitas kembali.

Tapi ngomong-ngomong bukankah kaledo tinggi kolestrol danlemak, ngeri melihat daging irisan besar, dengan kaldu lemak yang mengelilinginya. Tenang asam Jawa yang digunakan sebagai bumbu utama ternyata dapat menetralisir lemak dan kolestrol. Apalagi setelah memakan kaledo kita melakukan aktifitas yang berat seperti bekerja dan berolah raga.

Jadi untuk menikmati makanan lezat, tak perlu dipikirkan efek sampingnya.. Yang penting makan tidak berlebihan dan tidak terus menerus setiap hari, dijamin aman dan nikmat. Nah selamat mencoba kaledo.

You may also like

1 Comment
  1. I’m usually to blogging and i really respect your content. The article has actually peaks my interest. I’m going to bookmark your web site and keep checking for brand new information.

Leave a Comment

Your email address will not be published.