Unik! Tradisi Dari Nias Ini Akan Membuatmu Tercengang

by

Di Indonesia ada berbagai macam jenis kebudayaan yang sampai saat ini masih dipertahankan. Kebudayaan yang dimaksud itu bisa berupa tarian, bahasa, gaya hidup, upacara adat, atau kebiasaan terentu. Melestarikan kebudayaan merupakan suatu kewajiban bagi para penerus bangsa agar budaya yang ada tidak hilang dimakan zaman.

Kebudayaan ini memiliki peranan penting untuk dapat menunjukkan identitas suatu negara atau daerah, yang biasanya berawal dari suatu unsur kebudayaan yang telah dilaksanakan oleh para pendahulu-pendahulu daerah tersebut. Maka sangat disayangkan jika para pemuda yang merupakan penerus bangsa tidak mengetahui budaya dari negaranya atau bahkan dari daerahnya sendiri.

Tradisi Lompat Batu adalah salah satu tradisi yang berasal dari Nias, Sumatera Utara. Tradisi ini biasanya dilakukan para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu setinggi 2 meter dan setebal 40 cm untuk menunjukan bahwa mereka sudah pantas untuk dianggap dewasa secara fisik. Tradisi Lompat Batu ini merupakan salah satu tradisi yang cukup terkenal di Nias. Selain ditampilkan sebagai acara adat, Tradisi Lompat Batu ini juga bisa menjadi pertunjukan yang menarik, khususnya bagi para wisatawan yang datang ke tempat ini.

Kalau kamu pernah memeriksa uang Rp1.000 yang beredar tahun 1992-an, kamu bisa lihat gambar seorang anak muda dengan posisi sedang melompati sebuah batu yang ditata tinggi. Itulah Fahombo, atau lompat batu yang hingga kini masih diadakan di Desa Bawamataluo Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini merupakan ritual khusus buat para pemuda suku Nias loh.

Tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa tradisi lompat batu ini tidak terdapat di semua wilayah Nias dan hanya terdapat pada kampung-kampung tertentu saja seperti di wilayah Teluk Dalam. Dan satu hal lagi, tradisi ini hanya boleh diikuti oleh kaum laki-laki saja loh. Dalam adat dan tradisi suku Nias, lulus uji lompat batu adalah salah satu tanda kalau seorang pemuda dianggap sudah dewasa. Itu artinya, sang pemuda diijinkankan ikut berperang, bisa memikul tanggungjawab sebagai pria dewasa, bahkan sudah diperbolehkan untuk menikah.

Tradisi lompat batu Nias ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan terus diturunkan hingga generasi sekarang. Menurut sejarahnya, Tradisi Lompat Batu ini muncul karena kebiasaan masyarakat saat perang suku yang pernah terjadi di Nias. Konon pada saat itu, setiap kampung yang berperang mempunyai bentengnya masing-masing untuk menjaga wilayah mereka. Sehingga untuk menyerang, dibutuhkan kekuatan khusus untuk melompati benteng tersebut. Mereka kemudian membuat tumpukan batu yang digunakan untuk melatih fisik mereka, terutama ketangkasan dalam melompat.

Seiring dengan berakhirnya perang tersebut, lompat batu ini masih dilakukan oleh masyarakat di sana hingga menjadi suatu tradisi. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ritual atau media bagi para pemuda untuk menunjukan bahwa dia sudah dewasa.

Share agar Indonesia

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.