Bertemu Rama dan Sita di Kebun Raya

by

Saat itu saya sudah tidak lagi tahu apa yang harus saya lakukan setibanya di Pulau Dewata. Sebenarnya Bali selalu menawarkan hal baru dan itu membuatnya tidak pernah membosankan di mata saya. Tapi Bali kali itu terasa berbeda, tidak ada perasaan berdebar yang membuat saya bersemangat. Meski hiruk pikuk Jalan Legian, menyaksikan surfer menantang ombak di Pantai Kuta, hingga mencoba tempat makan tematik di Seminyak yang fotonya bisa kita unggah di media sosial, tetap menjadi pesona yang sayang untuk dilewatkan.

Sampai suatu saat, ketika sedang asyik menghabiskan Gelato di pagi hari yang menyengat di Poppies Lane, saya mengingat sebuah artikel beberapa tahun lalu di surat kabar nasional mengenai sebuah kebun raya, di sana ada patung besar Kumbakarna, adik Rahwana, yang sedang bertarung melawan pasukan kera milik Hanoman.

Tanpa pikir panjang, saya segera menuju Terminal Ubung di Denpasar untuk menuju Bedugul, tempat di mana kebun raya tersebut berada. Cukup mudah mendapatkan transportasi menuju Bedugul karena Terminal Ubung sejatinya memang terminal pusat. Dengan angkutan kota berbentuk mini-van dan biaya kurang dari sepuluh ribu, saya sampai di Kebun Raya Eka Karya.

Bagitu sampai di depan jalan yang mengarah ke gapura kebun raya, saya masih harus berjalan kaki kurang lebih lima ratus meter untuk mencapai gerbangnya. Selama berjalan, saya disesaki perasaan haru karena berhasil sampai menggunakan transportasi umum layaknya penduduk lokal, sehingga perjalanan menuju gerbang kebun raya menjadi perasaan yang menyenangkan. Pemandangan berbukit dan banyak pedagang yang menawarkan hasil buminya, mayoritas mereka menawarkan stroberi, sungguh menghangatkan hati meski cuaca sedang menusuk pori-pori. Sesekali saya berhenti untuk mengagumi landskap Bali yang berbeda dari yang biasanya saya lihat di selatan Bali; perbukitan dan hawa dingin.

Jalan Menuju Kebun Raya Eka Karya

Udara bersih menyesaki paru-paru, membuat saya merasa telah mengambil keputusan yang tepat untuk pergi ke sini. Hingga akhirnya gerbang kebun raya terlihat, senyum saya mengembang dan saya segera berlari ke arah tempat loket untuk membeli tiket, berikut harga tiket:

  • Pengunjung Domestik: Rp 9.000
  • Pengunjung Internasional: RP 17.000
  • Kendaraan Roda Empat (keliling Kebun Raya): RP 11.000
  • Parkir Kendaraan Roda Dua: Rp 3.000
  • Parkir Kendaraan Roda Empat: Rp 6.000
  • Parkir Kendaraan Roda Enam: Rp 11.000

Hanya kendaraan roda empat yang diizinkan masuk ke dalam kebun raya, untuk kendaraan roda dua dan enam wajib memarkirkan kendaraannya dan berjalan kaki untuk menikmati berbagai fasilitas kebun raya yang ada. Selain pemandangan asri, di mana mata begitu dimanjakan dengan penampakkan serbahijau, yang paling menarik dari Kebun Raya Eka Karya Bali adalah patung-patung Ramayana yang bercerita di jalan utama.

Bagi yang sudah akrab dengan kisah Ramayana, tentu mengetahui langkah demi langkah cerita itu terbangun, dari mulai kijang emas yang dikejar Rama atas permintaan Sita, Jatayu yang mencegah Rahwana menculik Sita, hingga Sita yang diminta untuk terjun ke dalam api untuk membuktikan kesuciannya. Hebatnya di kebun raya ini berderet patung-patung yang merepresentasikan bagian-bagian kisah tersebut.

Rama Memanah Kijang

Setelah puas memerhatikan tiap patung yang bercerita. Akhirnya tujuan saya untuk melihat patung Kumbakarna Laga kesampaian. Patung itu berdiri gagah di tengah bundaran. Dengan hawa sejuk khas pegunungan, sungguh betah berlama-lama duduk di kaki bibir patung. Berkali-kali saya mencoba mengabadikan patung besar itu, begitu megah dengan balutan cerita yang membuatnya semakin mudah untuk dikagumi.

Hawa dingin yang awalnya cukup membuat saya berkali-kali menggosokan kedua tanngan kini tidak lagi menjadi masalah. Kebun raya yang teduh telah membuat pikiran saya terbebas dari sesaknya penat. Kebun Raya Eka Karya Bali adalah kebun raya pertama yang dibuka setelah Indonesia merdeka yaitu pada 15 Juli 1959, rumah bagi tumbuh-tumbuhan tropika khas kawasan timur Indonesia dan berbagai macam kolekasi tanaman di dunia.

Kumbakarna Laga

Sesuai dengan namanya, ‘Eka’ yang berarti ‘satu’ dan ‘Karya’ yang berarti ‘kerja’, kebun raya ini dimaksudkan sebagai sebuah kebanggaan Indonesia dalam membuat suatu kebun raya. Dengan luas kebun raya yang mecapai lebih dari 150 hektar, banyak koleksi yang bisa dilihat di sini, seperti; Anggrek, Kaktus (beberapa koleksi didatangkan dari Jerman, Selandia Baru, dan Meksiko), Tanaman Karnivora, Begonia, Bambu, Tanaman Air dan Palma, serta banyak lagi.

Yang paling menarik perhatian saya ketika berkeliling Kebun Raya ini adalah sebuah taman yang dikhusukan untuk tanaman-tanaman yang biasa digunakan untuk peribadatan umat Hindu di Bali. Menurut catatan, terdapat 580 tanaman yang biasa digunakan untuk melakukan upacara adat.

Nama tempat itu adalah Taman Panca Yadnya. Yadnya sendiri artinya keselamatan, dan memang dalam sebuah upacara, lazim melambangkan bunga sebagai Dewa Siwa yang berarti meleburkan, lalu api sebagai Dewa Brahma sebagai pencipta, dan air sebagai Dewa Wisnu sebagai pemelihara.

Taman Panca Yadnya

Jarak menuju taman ini lumayan jauh dari pintu gerbang, sehingga taman ini bagai oase yang sudah didambakan ketika kita mulai kelelahan berjalan.

Selain bisa melihat berbagai macam koleksi tanaman, di Kebun Raya Eka Karya Bali ini ada tempat outbound, namanya Bali Treetop Adventures Park. Dari sini kita bisa melihat keindahan kebun raya dari atas pohon, meluncur dan terbang dari satu pohon ke pohon lain layaknya Tarzan. Patut dicoba jika masih memiliki banyak waktu atau berniat menginap di daerah Bali yang sejuk ini.

Sebelum Maghrib, saya kembali ke pusat kota. Dan kali ini saya sudah kembali bisa menikmati Bali dengan keramaian dan pesonanya. Ternyata saya memang hanya membutuhkan pengalihan sebelum kembali larut ingar-bingar suasana selatan Bali.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.